Terapi Jidat ala Guru SDN 2 Gedangan Pacitan, Cara Halus Bikin Siswa Lebih Tenang dan Penurut
Guru di Pacitan terapkan “terapi jidat” untuk disiplinkan siswa tanpa hukuman. Lewat sentuhan dan doa, anak jadi lebih tenang, fokus, dan suasana belajar pun makin kondusif.
PACITAN – Di tengah kekhawatiran banyak guru saat mendisiplinkan siswa karena takut dianggap berlebihan, seorang guru di SDN 2 Gedangan, Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan punya cara tak biasa. Tanpa bentakan apalagi hukuman fisik, ia memilih “terapi jidat” sebagai pendekatan sederhana untuk membuat anak-anak lebih tenang dan mudah diarahkan.
Metode itu dijalankan Muhayanti setiap Senin pagi usai upacara bendera. Saat guru lain biasanya langsung menuju ruang kantor, dia justru mendatangi murid-muridnya satu per satu. Anak-anak diajak bersalaman, lalu kepalanya disentuh pelan sambil jidat mereka diusap.
Cara itu bukan sekadar kebiasaan. Muhayanti menyebutnya sebagai bagian dari “terapi doa” yang sudah rutin ia lakukan hampir setahun terakhir.
“Setiap Senin setelah upacara, anak-anak saya terapi dengan berjabat tangan. Saya pegang kepalanya dan saya usap jidatnya,” ujar Muhayanti, Senin (4/5/2026).
Di sela sentuhan itu, ia membacakan doa-doa. Harapannya sederhana, batin anak-anak menjadi lebih adem sehingga lebih mudah menerima pelajaran dan arahan dari guru.
Menurutnya, pendekatan semacam ini dipilih karena ia ingin tetap bisa menanamkan kedisiplinan tanpa harus menggunakan cara keras. Terutama untuk siswa yang dikenal aktif atau kerap sulit diatur di kelas.
Hasilnya, kata dia, mulai terasa. Suasana belajar menjadi lebih kondusif. Anak-anak terlihat lebih tenang saat mengikuti pembelajaran.
Hal itu juga dirasakan Halilintar, siswa kelas 4 SDN 2 Gedangan. Ia mengaku ada perubahan yang dirasakan setiap kali mendapat sentuhan terapi dari gurunya.
“Setelah diusap jidat saya, rasanya jadi tenang pas diajar Bapak dan Ibu guru. Hati jadi terasa terang dan lebih gampang buat konsentrasi belajar,” tuturnya.
Pendekatan Muhayanti menjadi gambaran bahwa mendidik karakter tak selalu identik dengan ketegasan yang kaku. Di tengah situasi ketika banyak guru serba hati-hati dalam mendisiplinkan siswa, sentuhan kasih sayang justru bisa menjadi jalan yang lebih efektif.
Di SDN 2 Gedangan, terapi sederhana itu perlahan menjadi bukti bahwa kelembutan kadang bekerja lebih kuat daripada hukuman. Sebab bagi anak-anak, sentuhan tulus dari seorang guru bisa meninggalkan pengaruh yang jauh lebih dalam daripada sekadar teguran keras. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.