https://pacitan.times.co.id/
Pendidikan

Panembromo Ngleluri Budaya Jawi, Cara Apik STKIP PGRI Pacitan Tanamkan Jiwa Wirausaha

Kamis, 08 Januari 2026 - 14:57
Panembromo Ngleluri Budaya Jawi, Cara Apik STKIP PGRI Pacitan Tanamkan Jiwa Wirausaha Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, membuka kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES PACITAN, PACITAN – Perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga arena pembentukan karakter dan mental mahasiswa. Prinsip itu coba diwujudkan STKIP PGRI Pacitan melalui kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi yang digelar di Student Hall STKIP PGRI Pacitan, Kamis (8/1/2026) pagi.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk pentas seni Panembromo dan bazar UMKM tersebut diikuti mahasiswa semester 1 dan semester 3 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Total, ada 65 jenis produk makanan dan minuman hasil kreasi mahasiswa yang dipamerkan dan dijual dalam bazar tersebut.

Ketua STKIP PGRI Pacitan, Bakti Sutopo, menjelaskan bahwa kegiatan Panembromo bukan sekadar agenda seremonial kampus. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan yang dirancang berbasis praktik nyata.

Apik-STKIP-PGRI-Pacitan.jpg

“Kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi ini merupakan implementasi Mata Kuliah Kewirausahaan. Jadi mahasiswa tidak hanya menerima teori di kelas, tetapi langsung mempraktikkan nilai-nilai yang dipelajari,” ujar Bakti Sutopo.

Ia menegaskan, konsep Panembromo dipilih karena sarat dengan nilai budaya dan karakter. Sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan, mahasiswa dituntut terlibat aktif, bekerja sama, serta berani tampil di ruang publik.

“Panembromo, jika kita lihat dari prosesnya, mulai dari persiapan, penampilan hingga penutupan kegiatan, itu mengandung banyak nilai. Mahasiswa tidak hanya belajar di tataran teoretik, tetapi juga praktik langsung,” katanya.

Apik-STKIP-PGRI-Pacitan-b.jpg

Menurut Bakti, penguatan nilai budaya menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter mahasiswa. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, mahasiswa perlu tetap memiliki kecintaan terhadap budaya lokal, khususnya budaya Jawa yang sarat nilai adiluhung.

“Melalui Panembromo ini, mahasiswa belajar mencintai budaya sendiri. Budaya Jawa mengajarkan unggah-ungguh, etika, kerja sama, dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini relevan dengan pembentukan karakter calon pendidik,” jelasnya.

Selain aspek budaya, kegiatan ini juga dirancang untuk menanamkan jiwa kewirausahaan. Hal tersebut diwujudkan melalui bazar UMKM yang menampilkan puluhan produk hasil inovasi mahasiswa, mulai dari aneka makanan ringan, minuman kekinian, hingga olahan tradisional dengan kemasan modern.

Bakti menilai, keterkaitan Panembromo dengan Mata Kuliah Kewirausahaan sangat kuat. Mahasiswa diajak memahami bahwa kewirausahaan bukan semata soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang membangun mental dan karakter.

“Di dalamnya ada internalisasi nilai kewirausahaan, seperti ketekunan, ketangguhan, tidak gengsi, dan keberanian mencoba. Nilai-nilai ini penting untuk memperkuat karakter mahasiswa,” paparnya.

Ia mengakui, secara umum lulusan STKIP PGRI Pacitan diproyeksikan menjadi guru atau tenaga kependidikan. Namun demikian, mahasiswa tetap perlu dibekali kesiapan mental untuk menghadapi realitas sosial dan ekonomi di masyarakat.

“Bahwa mereka ada kesadaran untuk berwirausaha. Karena meskipun mereka calon guru atau tenaga kependidikan, siap secara mental menghadapi realita sosial nantinya,” ungkap Bakti.

Menurutnya, kesiapan mental tersebut harus dipupuk sejak awal masa perkuliahan. Oleh karena itu, mahasiswa semester 1 dan semester 3 dilibatkan secara langsung dalam kegiatan Panembromo. “Mental harus dipersiapkan sedari awal,” tegasnya.

Ia menjelaskan, mahasiswa semester 1 mengikuti kegiatan ini dalam konteks pengenalan kewirausahaan, sementara mahasiswa semester 3 telah masuk pada tahap penguatan praktik. Kolaborasi lintas semester tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya belajar bersama dan saling menguatkan.

“Panembromo ini diikuti mahasiswa semester tiga, sedangkan kewirausahaan ada di semester satu. Jadi ada proses belajar yang berkelanjutan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Bakti berharap kegiatan Panembromo Ngleluri Budaya Jawi dapat menjadi model pembelajaran kontekstual yang terus dikembangkan STKIP PGRI Pacitan. Ia menilai, integrasi antara budaya, kewirausahaan, dan pendidikan merupakan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menjadi bekal bagi mahasiswa untuk membangun kemandirian ekonomi di masa depan,” katanya.

Menurut Bakti, kampus harus hadir sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar mencoba, belajar gagal, dan belajar bangkit. Melalui kegiatan berbasis praktik seperti Panembromo, mahasiswa dilatih menghadapi tantangan nyata sebelum terjun ke masyarakat.

“Yang terpenting, mahasiswa berani mencoba dan tidak takut gagal. Dari situ mental kewirausahaan dan karakter akan terbentuk,” pungkasnya. (*)

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Pacitan just now

Welcome to TIMES Pacitan

TIMES Pacitan is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.