Inovatif, SDN 3 Sukodono Donorojo Pacitan Sulap Ujian Praktik Jadi Petualangan Luar Angkasa
SDN 3 Sukodono ubah ujian praktik jadi proyek tematik “Menjelajah Luar Angkasa”, gabungkan beberapa mapel, latih kognitif-afektif-psikomotor, dan membuat ujian terasa seru, bukan menegangkan.
PACITAN – Pola ujian praktik di SDN 3 Sukodono, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dirombak. Yang biasanya identik dengan ketegangan, kini dikemas dalam tema "Menjelajah Luar Angkasa” untuk siswa kelas VI.
Ujian tidak lagi dipisah per mata pelajaran. Seluruhnya dirangkum dalam satu proyek terpadu. Skema ini membuat penilaian lebih sederhana, tetapi tetap mencakup berbagai kompetensi.
Kepala SDN 3 Sukodono, Sri Rasawati, menyebut langkah tersebut relevan dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.
“Saya sangat mengapresiasi ide atau inovasi yang dilakukan dalam pelaksanaan Ujian Praktik Terpadu ini. Dengan melaksanakan ujian menggunakan satu tema yang mencakup beberapa mata pelajaran sekaligus, prosesnya menjadi jauh lebih efisien,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Inovasi ini digagas oleh salah seorang guru, Dwi Setyaningsih. Ia ingin mengubah persepsi siswa terhadap ujian.

“Selain mempermudah proses pelaksanaan dari segi waktu, inovasi ini juga menguatkan kompetensi peserta didik dalam segi kognitif, afektif, dan psikomotor dalam sekali jalan. Kami ingin peserta didik tidak merasa terbebani dengan kata ‘ujian’. Di sini, ujian dikemas tidak menakutkan dan sangat menyenangkan,” jelasnya.
Pelaksanaan dimulai dari pembuatan visual tata surya. Di tahap ini, siswa menggabungkan materi IPAS dan Seni Rupa, sekaligus melatih ketelitian dan kreativitas.
Aspek literasi juga masuk dalam penilaian. Siswa mencatat alat dan bahan, menyusun langkah kerja, hingga membuat laporan. Proses ini menjadi bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia secara langsung.
Tahap akhir berupa presentasi. Siswa memilih satu planet, lalu memaparkannya dalam Bahasa Inggris sederhana. Kegiatan ini menguji pemahaman sekaligus keberanian berbicara.

“Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar tentang sains, tapi juga belajar mengomunikasikan ide mereka dalam bahasa internasional sejak dini,” tambah Dwi.
Model ini menekankan bahwa ujian tidak harus membebani. Dengan pendekatan tematik, proses belajar dan penilaian bisa berjalan beriringan.
Bagi siswa kelas VI, ujian bukan sekadar lembar jawaban. Lebih dari itu, kini menjadi pengalaman belajar yang utuh dan kontekstual. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.