TIMES PACITAN, PACITAN – Biasanya pejabat kita kalau turun ke jalan, baju dinas disetrika licin, sepatu mengkilap, dan pengawalan lebih panjang dari antrean beras murah. Tapi siang itu, Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar justru tampil beda. Bukan dengan seragam resmi, melainkan dengan sandal jepit dan jaket hijau muda khas ojol.
Usai shalat Jumat, shalat ghaib berjamaah dan makan siang bareng pengemudi ojek online di Masjid Al-Althaf Sedeng, ia langsung meluncur ke markas ojol di belakang pos Satlantas Penceng.
Hujan rintik-rintik tidak jadi soal. Mobil dinas siap, pengawalan pun ada. Tapi Kapolres lebih memilih dibonceng motor oleh seorang ojol.
Bukan pencitraan, entah kenapa terasa tulus. Yang membonceng adalah Joko Purwanto alias Jeck, koordinator aksi solidaritas untuk almarhum Affan Kurniawan, ojol yang wafat di Pejompongan, Jakarta.
"O, jangan salah, sejak awal ojol ada, saya udah duluan dibonceng, tiap hari malahan pulang pergi pas kerja," kata pria yang juga mantan penyidik KPK ini.
Saya, kebetulan satu-satunya wartawan yang mengikuti sejak shalat ghaib hingga makan nasi bungkus, ikut menyaksikan. Kamera butut saya masih bekerja, meski lensanya sering ngadat.
"Pakai aplikasi Pak," celetuk saya sok bercanda.
"Pakai tips, bayarnya nanti!," jawab Kapolres sembari membetulkan tali helm ojolnya.
Sesampainya di markas, papan bunga duka sudah berdiri. Para ojol menunggu. Dalam hati saya sempat nyeletuk, "wah, jangan-jangan barusan kabur dari khutbah Jumat."
Tapi semua menyambut Kapolres dengan jabat tangan berderet. Dari jauh, para intel ikut menyimak sambil pura-pura menulis laporan di HP.
Acara doa bersama akhirnya dipindah ke depan gedung DPRD Pacitan. Kapolres melepas sandal jepitnya, lalu mencari sepatu.
"Mana sepatu saya tadi," tanyanya kepada ajudan.
Papan bunga duka pun diarak jalan kaki menuju dewan. Langit Pacitan seolah masih bersedih, air matanya menetes pelan, ikut mengiringi kepergian Affan.
Di depan gedung dewan, Kapolres berdiri dengan wajah murung. Ia menyampaikan bela sungkawa dan mengajak hening cipta. Suasana terdiam. Sampai saya tiba-tiba diseret ke depan.
"Lho kok saya, Pak?" saya protes.
"Mana tadi ustadz Yusuf, yang mimpin doa," sahut Kapolres.
Tak sempat menghindar. Provost bernama Sayuti sudah mencomot saya dari kerumunan. Saya pun dijejerkan dengan para petinggi ojol. Dengan suara tercekat, saya memimpin doa. Entah kenapa mata ikut basah.
Di depan saya, rekan-rekan wartawan sigap memotret, ada juga yang ambil video, karena doa kadang lebih laku jika ada dokumentasi.
Usai doa, para ojol membagikan nasi kotak kepada pengendara yang melintas. "Ini wujud rasa syukur kami Pacitan masih aman, damai," ujar Joko Purwanto.
Kapolres menimpali, ringan saja, "Eh, jangan lupa setelah ini balik lagi ke basecamp ya, ngopi di sana kita."
Di tengah riuh politik yang sering kaku, adegan ini seperti anekdot hidup, pejabat yang biasanya dibatasi protokoler, kali ini justru nekat membonceng motor ojol dengan sandal jepit. Seolah ingin bilang, empati tidak perlu panggung, cukup mau menaruh hati di jok belakang motor rakyat.
Untaian doa tertuju arwah almarhum Affan Kurniawan pun terus mengucur seiring rintik hujan dari langit Pacitan memberkati kepergiannya untuk selama-lamanya. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Ketika Kapolres Pacitan Dibonceng Ojol Antarkan Doa Almarhum Affan Kurniawan
Pewarta | : Yusuf Arifai |
Editor | : Deasy Mayasari |